MENILIK BATIK SOLO TAK HANYA DARI WARNA, NAMUN MAKNA


Batik merupakan istilah yang telah melekat dalam diri masyarakat Indonesia. Beberapa lembaga bahkan menetapkan satu hari khusus dalam seminggu sebagai hari batik. Banyak orang mengaku mencintai batik. Banyak orang bangga mengenakan batik. Namun berapa banyak orang yang mengetahui makna dalam motif-motif batik?


                Menilik sejarahnya, sejak zaman penjajahan Belanda batik telah digolongkan menjadi dua kelompok besar dengan mengacu pada sudut daerah pembuatan batik tersebut, yaitu batik Vorstenlanden dan batik pesisir. Batik Vorstenlanden merupakan istilah bagi batik yang berasal dari wilayah Solo dan Yogyakarta karena pada saat itu daerah ini merupakan daerah kerajaan yang disebut Vorstenlanden. Istilah batik pesisir disematkan pada semua batik yang pembuatannya dilakukan di luar daerah Solo dan Yogyakarta. Ciri khas yang membedakan corak batik Solo dan Yogyakarta dengan baik pesisir adalah bahwa batik Solo dan Yogyakarta memiliki ragam hias bersifat simbolis berlatarkan kebudayaan Hindu-Jawa dan memiliki paduan warna indigo, hitam, dan putih.


                Daerah Solo yang merupakan daerah kerajaan dengan segala tradisinya merupakan pusat pemerintahan, agama, dan kebudayaan. Maka tak heran, batik yang dihasilkan dari daerah ini memiliki perpaduan unsur – unsur simbolik yang kental dengan falsafah Hindu – Jawa. Daerah Solo memiliki beberapa aturan dalam penggunaan kain batik, antara lain menyangkut kedudukan sosial pemakai dan peristiwa pada saat batik tersebut digunakan, misalnya pada upacara pernikahan.

Batik Parang Rusak Barong

               Batik yang digunakan berdasarkan kedudukan sosial pemakai antara lain adalah batik Parang Rusak Barong, Sawat, dan batik Kawung yang hanya boleh digunakan oleh raja-raja beserta keluarga dekatnya. Hal ini dikarenakan adanya makna filosofis yang menganggap sakral ragam hias ini. Ketiga ragam hias tersebut dinamakan ragam hias larangan karena tidak semua kalangan boleh menggunakannya.





Batik Sawat
 
Batik Kawung



Batik Satria Manah
Dalam kebudayaan Jawa, pernikahan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu lamaran, seserahan, pertunangan, siraman, dan pernikahan. Dalam masing-masing tahap tersebut terdapat ragam hias khusus yang memiliki makna tersendiri. Pada saat proses lamaran, pihak laki-laki dapat menggunakan ragam hias Satria Manah yang bermakna harapan bahwa lamaran pria diterima oleh pihak wanita. Pihak wanita sebagai penerima dapat menggunakan batik ragam hias Semen Rante dengan gambar rantai yang merupakan lambang ikatan kokoh dan kuat dengan harapan lamaran tersebut akan menciptakan hubungan yang kuat dan tidak akan lepas antara kedua pihak.


 

Batik Semen Rante
Kemudian pada proses seserahan, pihak pria dapat memberikan batik dengan corak Madu Bronto di mana bronto berarti asmara sehingga batik ini bermakna asmara yang manis bagai madu. Pada saat pertunangan, sang gadis dapat menggunakan kain batik ragam hias Parang Kusuma atau batik Parang Cantel yang mengisyaratkan bahwa sang gadis sudah ada yang punya. Sementara pada prosesi siraman, sang wanita mengenakan kain cita kembang atau polos, sementara orang tua pengantin wanita dapat menggunakan ragam hias Cakar yang melambangkan harapan calon pengantin agar dapat mencari nafkah sendiri.


Batik Sido Mukti
        Sementara batik yang digunakan dalam upacara perkawinan antara lain adalah batik dengan ragam hias Sido Mukti yang digunakan oleh mempelai perempuan dan laki-laki. Sido diartikan sebagai terus menerus dan mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. Dapat disimpulkan bahwa ragam hias ini melambangkan harapan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan kekal untuk kedua mempelai.



Batik Truntum


               

  Pada upacara perkawinan, orang tua pengantin dapat mengenakan ragam hias Truntum yang berarti menuntun. Ragam hias ini memberi makna bahwa sebagai orang tua berniat akan menuntun kedua mempelai memasuki kehidupan baru berumah tangga yang banyak lika-liku.
               
Batik Sido Wirasat
  



Ada pula ragam hias Sido Wirasat yang melambangkan harapan bahwa
orang tua akan menuntun serta memberi nasehat pada kedua mempelai
yang akan memasuki kehidupan berumah tangga.

                



Demikian beberapa jenis Batik Solo beserta dengan makna yang terkandung di dalamnya. masih banyak terdapat ragam hias khas Solo yang memiliki berbagai makna tersendiri melalui proses pembuatannya. Kemegahan batik seharusnya dilestarikan oleh masyarakat tidak hanya melalui kekaguman terhadap warna dan motif, namun juga pemahaman akan makna yang melatarbelakangi penciptaannya.

Comments

Popular Posts