MENILIK BATIK SOLO TAK HANYA DARI WARNA, NAMUN MAKNA
Menilik
sejarahnya, sejak zaman penjajahan Belanda batik telah digolongkan menjadi dua
kelompok besar dengan mengacu pada sudut daerah pembuatan batik tersebut, yaitu
batik Vorstenlanden dan batik pesisir. Batik Vorstenlanden merupakan istilah
bagi batik yang berasal dari wilayah Solo dan Yogyakarta karena pada saat itu
daerah ini merupakan daerah kerajaan yang disebut Vorstenlanden. Istilah batik
pesisir disematkan pada semua batik yang pembuatannya dilakukan di luar daerah
Solo dan Yogyakarta. Ciri khas yang membedakan corak batik Solo dan Yogyakarta dengan baik pesisir adalah bahwa batik Solo dan Yogyakarta memiliki ragam hias bersifat simbolis berlatarkan
kebudayaan Hindu-Jawa dan memiliki paduan warna indigo, hitam, dan putih.
Daerah
Solo yang merupakan daerah kerajaan dengan segala tradisinya merupakan pusat
pemerintahan, agama, dan kebudayaan. Maka tak heran, batik yang dihasilkan dari
daerah ini memiliki perpaduan unsur – unsur simbolik yang kental dengan
falsafah Hindu – Jawa. Daerah Solo memiliki beberapa aturan dalam penggunaan
kain batik, antara lain menyangkut kedudukan sosial pemakai dan peristiwa pada saat
batik tersebut digunakan, misalnya pada upacara pernikahan.
![]() |
| Batik Parang Rusak Barong |
Batik yang digunakan berdasarkan kedudukan
sosial pemakai antara lain adalah batik Parang Rusak Barong, Sawat, dan batik
Kawung yang hanya boleh digunakan oleh raja-raja beserta keluarga dekatnya. Hal
ini dikarenakan adanya makna filosofis yang menganggap sakral ragam hias ini. Ketiga
ragam hias tersebut dinamakan ragam hias larangan
karena tidak semua kalangan boleh menggunakannya.
![]() |
| Batik Sawat |
![]() |
| Batik Satria Manah |
![]() |
| Batik Semen Rante |
Kemudian pada proses seserahan,
pihak pria dapat memberikan batik dengan corak Madu Bronto di mana bronto berarti asmara sehingga batik ini
bermakna asmara yang manis bagai madu. Pada saat pertunangan, sang gadis dapat
menggunakan kain batik ragam hias Parang Kusuma atau batik Parang Cantel yang
mengisyaratkan bahwa sang gadis sudah ada yang punya. Sementara pada prosesi
siraman, sang wanita mengenakan kain cita kembang atau polos, sementara orang
tua pengantin wanita dapat menggunakan ragam hias Cakar yang melambangkan
harapan calon pengantin agar dapat mencari nafkah sendiri.
![]() |
| Batik Sido Mukti |
Sementara
batik yang digunakan dalam upacara perkawinan antara lain adalah batik dengan
ragam hias Sido Mukti yang digunakan oleh mempelai perempuan dan laki-laki. Sido
diartikan sebagai terus menerus dan mukti berarti hidup dalam berkecukupan dan
kebahagiaan. Dapat disimpulkan bahwa ragam hias ini melambangkan harapan masa
depan yang baik, penuh kebahagiaan kekal untuk kedua mempelai.
![]() |
| Batik Truntum |
Pada upacara
perkawinan, orang tua pengantin dapat mengenakan ragam hias Truntum yang
berarti menuntun. Ragam hias ini memberi makna bahwa sebagai orang tua berniat
akan menuntun kedua mempelai memasuki kehidupan baru berumah tangga yang banyak
lika-liku.
![]() |
| Batik Sido Wirasat |
Ada pula
ragam hias Sido Wirasat yang melambangkan harapan bahwa
orang tua akan menuntun serta memberi nasehat pada kedua mempelai
yang akan memasuki kehidupan berumah tangga.
orang tua akan menuntun serta memberi nasehat pada kedua mempelai
yang akan memasuki kehidupan berumah tangga.
Demikian
beberapa jenis Batik Solo beserta dengan makna yang terkandung di dalamnya.
masih banyak terdapat ragam hias khas Solo yang memiliki berbagai makna
tersendiri melalui proses pembuatannya. Kemegahan batik seharusnya dilestarikan
oleh masyarakat tidak hanya melalui kekaguman terhadap warna dan motif, namun
juga pemahaman akan makna yang melatarbelakangi penciptaannya.









Comments
Post a Comment