PACUBLEK-CUBLEK UANG?


Permainan tradisional mungkin telah lekang oleh zaman, tergantikan oleh berbagai permainan modern berteknologi canggih. Saat ini, sangat jarang ditemukan anak-anak usia sekolah dasar mengenal permainan tradisional. Padahal, permainan tradisional tidak hanya memanfaatkan olah gerak, suara, dan pikir dari para pemainnya, namun lirik lagunya mengandung nilai pendidikan. Salah satu permainan tradisional tersebut adalah pacublek-cublek uang.
             Permainan tradisional ini marak dimainkan di daerah Cibatu, Garut, Jawa Barat. Lirik lagu Pacublek-Cublek Uang memiliki makna yang  sarat akan nilai pendidikan. Pacublek – Cublek Uang memiliki lirik sebagai berikut.

Pacublek – cublek uang
Uangnya manggul lenteng
Butata butiti
Si Tata wara-wiri
Tangsi nona tangsi babah
Si Sidin mau kawin
Gamelan jegar jegur
Amil penghuluna
Ta’em, ta’e em, ta’e em


Terjemahan lirik :
Berbecek-becek uang
Uangnya membawa renten
Jelek-jelek dan kecil
Si Tata bolak-balik
Tangsi nona tangsi babah
Si Sidin mau kawin
Gamelan jegar – jegur
Amil penghulunya
Ta’em, ta’em, ta’em

                Lagu ini merupakan sindiran kepada orang yang suka meminjam uang dengan menggunakan bunga (renten). Kata lenteng merupakan arti dari renten dan diucapkan demikian karena orang Cina pada masa itu kesulitan mengucapkan huruf r sehingg menjadi lenteng. Arti keseluruhan syair di atas adalah uang yang bertumpuk-tumpuk karena bertambah bunganya. Orang yang meminjam uang tersebut seakan buta dan tuli (butata-butiti), tidak tahu bahayanya renten. Sebagai perantara adalah Tata, yang kesana kemari mendatangi si Nona dan si Babah karena Sidin mau kawin dan gamelan sudah ditabuh, petasan sudah pula dibakar. Penghulu yang akan menikahkan adalah Pak Amil. Ta’e em dilakukan dengan kedua tangan mengepal dan menutup mulut yang artinya tidak usah dikata-katakan kepada orang lain, bahwa biaya untuk perkawinan dapat dipinjam, bahkan merupakan uang pinjaman berbunga.
                Nilai pendidikan dari permainan ini adalah agar kita mengekang diri untuk tidak boros sehingga terpaksa harus meminjam uang dengan bunga yang tinggi. Demikian pula kepada rentenir hendaknya jangan terlalu meninggikan bunga sehingga dapat menjerat si peminjam. Kata-kata dalam lirik lagu tersebut merupakan sindiran agar tidak melakukan tindakan yang salah dan nantinya akan terjerumus sehingga mengakibatkan kesengsaraan.
                Cara melakukan permainan ini sangat mudah. Pemain berjumlah tujuh orang anak misalnya anak A, B, C, D, E, F, dan G. Dilakukan undian sehingga terpilih satu anak yang ‘jadi’ atau menjadi jojodog yaitu orang yang menjadi tempat untuk melaksanakan permainan, misalnya A. A kemudian duduk simpuh dan telungkup di lantai serta dikelilingi oleh pemain yang lain. Salah seorang pemain yang lain berperan sebagai Embok. Kedua belah tangan seluruh pemain diletakkan di punggung A dalam posisi telapak tangan di atas. Para pemain kemudian menyanyikan lagu Pacublak-Cublak Uang sementara si Embok memegang  sebutir kelereng dan ditekankan secara berurutan pada semua telapak tangan para pemain. Pada saat lagu sampai pada “ta’e em, ta’e em” semua telapak tangan pemain mengepal dan ditaruh menutup mulut mereka masing-masing., kemudian A diminta untuk menebak di mana letak kelereng yang dijalankan oleh Embok tadi. Apabila A salah menebak, maka A akan ‘jadi’ lagi dan permainan diulang dari awal. Sedangkan apabila A menebak dengan tepat, maka pemain yang tertebak akan akan ‘jadi’ menggantikan A.
                Jika dilihat dari jalannya permainan, pacublek-cublek uang melatih pemainnya untuk bergerak, melalui gerakan tangan Embok yang berputar-putar di setiap tangan pemain dan gerakan tangan pemain yang harus sigap menyembunyikan kelereng pemberian Embok; bersuara, melalui lagu yang harus dinyanyikan selama jalannya permainan; dan berpikir, di mana jojodog harus berpikir dan menerka siapa pemain yang menggenggam kelereng tersebut. Dengan demikian, pacublek-cublek uang tidak hanya menghibur, namun juga memberikan pendidikan moral serta mengajak para pemain untuk melatih gerak, suara, dan pikir.


Comments