TEATER DAERAH INDONESIA, Ia yang Hampir Punah


                Teater berasal dari bahasa Yunani, theatron, yang berarti ‘tempat atau gedung pertunjukan’.  Dalam perkembangannya, kata teater memiliki arti yang lebih luas, yaitu segla hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. (Bandem dan Mugiyarto, 1996). Di Indonesia tidak diketahui kapan pertama kali seni teater muncul. Namun terdapat kemungkinan teater Indonesia berasal dari zaman pra-Hindu. Pada saat itu, tradisi lisan masih sangat kuat di masyarakat, di mana segala informasi disebarkan melalui mulut ke mulut, termasuk penyebaran kebudayaan.  Selain itu, kesusasteraan Indonesia seperti babad, sejarah, dan kitab hanya dimiliki dan hanya boleh dibaca oleh kalangan tertentu, seperti kalangan kerajaan, pendeta, dan sastrawan. Oleh karena itu, sastra tersebut tidak dikenal oleh masyarakat umum. Isi kitab-kitab tersebut kemudian diturunkan melalui tradisi lisan dan menjadi kebiasaan bagi masyarakat daerah sehingga terciptalah suatu bentuk teater yang dikenal sebagai Teater Bertutur.

Berikut merupakan Teater Bertutur dari beberapa daerah di Indonesia.

1.       Sinrilik
Merupakan salah satu teater bertutur berasal dari Sulawesi Selatan yang biasa dipentaskan pada waktu diselenggarakan upacara di desa. Pelaku teater ini adalah satu atau beberapa orang yang bercerita sembari memainkan rebab, yaitu alat musik gesek tradisional. Para pelaku tidak menggunakan busana tari maupun tata rias, hanya mengenakan kain atau kemeja biasa. Cerita yang dibawakan dalam teater ini berupa cerita daerah, dongeng, dan legenda.

2.       Kentrung
Biasa dipentaskan oleh seorang pelaku yang menceritakan dongeng atau babad daerah setempat menggunakan bahasa daerah tersebut. Para pelaku tidak mengenakan busana khusus, hanya mengenakan busana sehari-hari. Teater ini dilakukan dengan duduk bersila sambil memainkan alat-alat musik pengiring.

3.       Jemblung
Merupakan pembacaan sastra daerah dari Jawa Tengah yang dibawakan oleh lima orang pelaku, yaitu tiga orang pembawa tokoh, satu orang pembawa cerita, dan seorang wanita sebagai vokalis. Pementasan teater ini dilakukan dengan duduk di atas kursi dan pelaku bebas melakukan gerak sesuai dengan peran yang dibawakan dengan diselingi beberapa lawakan. Teater Jemblung tidak menggunakan alat musik, namun para pelaku menirukan bunyi alat musik seperti gong, kempul, dan gendang. Cerita yang dibawakan antara lain diambil dari babad maupun kisah pewayangan.

4.       Bakaba
        Merupakan salah satu teater bertutur dari Sumatra Barat. Pembacaan sastra ini dilakukan dengan berdendang, diiringi dengan beberapa alat musik seperti rebana  besar (adok), kecapi, rebab, dan biola. Kisah yang dibawakannya adalah hal-hal yang bertemakan baik buruk, patut atau tidak patut dalam tradisi Tambo Alam atau adat Minangkabau, dengan menampilkan tokoh-tokoh dalam tradisi hikayat. Selain memperhatikan irama dendang untuk suasana, mereka juga sangat teliti memerhatikan karakter tokoh. Ini dilakukan dengan membedakan suara tiap karakter tokoh.
        Dalam pembacaan sastra daerah ini, tukang Kaba terlebih dahulu membaca doa dan mantra untuk mohon izin menyampaikan cerita serta mohon maaf kepada roh tokoh-tokoh yang namanya disebut dalam Kaba. Pembacaan mantra dilakukan pada awal dan akhir pertunjukan Bakaba.
        Bakaba terdiri dari beberapa jenis, tergantung dari alat pengiring dan judul cerita yang dibawakan. Seperti, Bakaba yang diiringi oleh kecapi disebut Barabab, sedangkan Bakaba yang diiringi kecapi dan adok disebut Basijobang. Dalam perkembangannya, Bakaba didukung oleh pemuda – pemudi kampung dan tumbuh menjadi teater rakyat Minangkabau bernama Randai.


Comments

Post a Comment

Popular Posts